Ketika silahturami diantara kita begitu hambar dan kering maka kita berpikir bagaimana cara untuk membasahi dan memberinya rasa, kemudian kita adakan arisan bulanan. Ketika dua daratan terpisah maka kita akan berjuang untuk menyatukannya, kemudian kita bangun jembatan.(more…)
Hingga kini, setelah hampir 4 tahun sejak diusulkan, proyek redd masih seperti ‘mimpi basah di siang bolong’. Proyek-proyek red melangkah dengan gagah meski hanya dengan sedikit harapan. Ada banyak sumberdaya (dana, waktu, tenaga) yang sudah dikeluarkan dan katanya lebih banyak lagi yang disiapkan jika proyek tersebut berhasil.
Tetapi, akankah redd mampu mengatasi permasalahan iklim yang saat ini sedang terjadi. Akankah redd mampu membuat kesejahteraan masyarakat di sekitar hutan menjadi lebih baik. Akankah redd mampu memberikan keuntungan financial kepada Negara kita. Jawaban-jawaban dari pertanyaan itu semuanya masih samar, kabur, buram dan tidak jelas. Dan perlahan-lahan saya mulai berpikir sepertinya proyek redd tujuan utamanya bukan untuk mencari jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Masalah perubahan iklim jelas tidak akan selesai dengan redd, selama negara maju (USA) masih enggan untuk mengurangi emisinya. Karena redd kita menjadi lupa bahwa lebih dari 80 persen penyumbangnya berasal dari negara maju, dan tidak sampai 20 persen yang berasal dari deforestasi dan degradasi hutan di negara-negara berkembang.
Kini, kita lebih banyak berkutat memenuhi persyaratan-persyaratan untuk bisa mendapatkan dana dari proyek redd. Hampir semua lembaga konservasiinternasional memiliki lokasi-lokasi untuk dimasukkan dalam skema pembiayaan proyek tersebut. Kita tidak lagi bertanya berapa besar negara maju harus menurunkan emisinya. Kita sibuk memenuhi ini dan itu, yang belakangan saya mulai berpikir, syarat-syarat itu tidak akan pernah terpenuhi. Akan ada saja yang kurang. Dan akhirnya, proyek ini dianggap gagal, dan kita akan cari proyek-proyek yang lain. Bukankah dulu CDM menawarkan hal yang kurang lebih serupa, yang kemudian gagal, dan muncullah redd.
Memang benar dalam beberapa hal mekanisme redd merupakan perbaikan dari mekanisme CDM yang pernah gagal. Namun patut juga kita berhati-hati bahwa redd bisa jadi upaya negara maju (terutama USA yang menyumbang emisi 21,44 persen dari seluruh emisi yang di keluarkan oleh planet ini) untuk ‘nyelimurkan’ kita dari kewajiban mereka menurunkan emisinya.
Dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan oleh Center for Social Forestry (CSF) Universitas Mulawarman, seorang peserta mengatakan “kita yang mau jual kok kita yang repot”. Seorang peserta yang lain mengatakan “jangan-jangan ini hanyalah sekedar tipu-tipu mereka saja, dan tidak akan ada uang yang turun ke masyarakat di sekitar hutan”. Kalau kita cermati, rasanya tidak berlebihan kekhawatiran-kekhawatiran seperti itu.
Lebih jauh, jangan-jangan, usulan Koalisi Bangsa-bangsa Hutan Tropis (Coalition of Rainforest Nations)tentang redd pada COP 11 yang dipimpin oleh Kosta Rika dan Papua New Guinea sebenarnya hasil dari intervensi pihak lain yang bukan anggota koalisi. Bukankah sudah menjadi permakluman bahwa pemilik modal mampu dan terbiasa melakukan hal-hal semacam itu. Bukan bermaksud untuk menebar rasa curiga dan menyuburkan prasangka, tetapi tidak ada salahnya kita tetap waspada dan berhati-hati, demi harga diri dan kedaulatan bangsa. Karena dengan bertambahnya usia, semakin banyak wajah imperialisme, yang semuanya nampak cantik dan membuai.
Lantas apakah kita perlu bersatu padu memboikot proyek redd? Rasanya itu juga tidak perlu. Meski untuk merasa optimis sepertinya juga cukup berat, ya kita melangkah saja dengan pesimisme, dengan tetap menajamkan hati dan membuka pikiran seluas-luasnya. Terkadang awal yang pesimisme juga menghasilkan sesuatu yang menakjubkan. Bukankah setiap perjalanan adalah separuh gelap, begitu kata Goenawan Mohamad.
Satu lagi yang perlu dicatat adalah redd bisa menjadi boomerang bagi lembaga-lembaga konservasi yang menginisiasinya. Di beberapa tempat, dimana proyek redd diinisiasi, lembaga-lembaga tersebut punya kecenderungan untuk ‘menjanjikan’ sesuatu (uang) yang akan diterima oleh daerah. Kecenderungan ini dilakukan karena mereka dikejar oleh target-target yang harus dicapai, misalnya harus terbentuk institusi lokal yang didalamnya semua pihak terlibat, harus ada SK, harus ada pendanaan dari Negara (APBN/APBD). Jika kemudian apa yang pernah dijanjikan itu tak kunjung datang, dengan tanpa dosa kita bilang “proyek selesai bulan, depan kita akan pergi dari sini”.
Akhirnya orang-orang lokal yang tinggal disekitar hutan diberikan dana hibah ala kadarnya, yang kemudian bisa dipakai untuk dangdutan, dan kemudian beramai-ramai mendendangkan lagu
”…kau yang berjanji, kau yang mengingkari, kau yang memulai, kau yang mengakhiri, oh nasib ya nasib mengapa begini…”.
Dan mereka yang hampir selalu salah ketika menyebutkan kepanjangan redd menemukan istilah baru untuk REDD yaitu Repot Demi Dangdut.
“Lebih baik kita berhasil menjaga sukma kita dan kalah pemilu ketimbang menang lewat cara yang salah” begitu pesan Nehru pada pemilu tahun 1951. Pada saat itu partainya sedang krisis dalam kepemimpinan
Menjelang pemilu 9 April nanti adakah pemimpin partai di negeri kita ini yang mengambil sikap seperti itu. Mungkin ada, tetapi yang sangat mungkin adalah tidak ada. Yang ada (dan banyak) justru sebaliknya. Sebagian besar atau bahkan semua partai akan melakukan cara apapun untuk memenangkan pemilu. Mereka (partai-partai itu dan tentu saja calegnya) tidak peduli jika cara-cara itu salah. Dan yang sungguh memalukan mereka tidak merasa salah atau setidaknya merasa malu melakukannya.
Apakah memang begitu. Yang penting menang dulu, kemudian berkuasa dan melakukan perbaikan sesuai dengan janji yang mereka ucapkan ketika kampanye. Meskipun berdasarkan catatan masa lalu yang sangat panjang janji-janji itu lebih banyak mereka khianati daripada yang ditepati. Bagaimana mungkin mereka memikirkan kesejahteraan dan ketentraman rakyatnya, sementara di saat yang sama mereka harus mengembalikan modal yang mereka keluarkan selama masa kampanye. Bagaimana mungkin mereka mampu melakukan perbaikan (perubahan), jika ada (banyak) yang nampaknya sekedar iseng-iseng belaka, mencari untung-untungan. Dan dengan bahasa yang tidak saya sukai, mereka sedang mengundi nasib. Hanya ada satu criteria yang mereka miliki yaitu keberanian yang ditopang oleh perasaan ndak tahu malu. Mereka itu orang-orang yang tidak memiliki visi yang jelas, dan punya reputasi yang tidak terpuji meski hanya diketahui oleh orang yang sangat terbatas. Kalau teman dekatnya dikadalin apalagi rakyat yang tidak dikenalnya. Yang begini ini mau jadi penguasa. Entah kenapa saya menjadi jengah dengan tingkah pola mereka, yang kini (sepertinya hingga beberapa minggu kedepan) lagi gencar-gencarnya jual beli suara.
Apakah memang begitu. Politik adalah sebuah proses tawar menawar yang mengesalkan, sebuah proses yang digerakkan oleh manipulasi tanpa rasa malu, bosan ataupun geli. Seperti kata Goenawan Mohamad dalam salah satu catatan pinggirnya.
Apakah memang begitu. Para politikus adalah orang-orang yang memiliki kecenderungan untuk menggumbar janji tanpa pernah merasa perlu menepatinya. Mari kita tajamkan ingatan kita. Kita rekam semua janji mereka. Kita lihat bagaimana mereka bekerja. Dan kita lihat bagaimana hasilnya. Apakah memang para politikus adalah pembohong besar, yang menyangka bahwa ia mampu melakukan apa saja, termasuk berkelahi diruang sidang.
Jika semua itu benar, dan pada akhirnya sebagian dari mereka berkuasa, akankah produk-produk kekuasaan yang mengalir kepada rakyat dalam bentuk kesejahteraan, keadilan dan ketentraman bisa hadir dalam kehidupan bangsa ini. Tak perlulah kita cari jawabnya jika semua jawaban hanya seperti di awang-awang, atau jika tidak maka jawabannya adalah sebuah jawaban yang pessimistic, putus asa dan kehilangan harapan. Dan jawaban seperti itu tidak perlu banyak tahu karena pessimistic itu menular. Kita ingat saja apa yang pernah dikatakan kata Hasyim Muzadi “kalau kita belum bisa menemukan pemimpin yang mencintai rakyatnya dan mencintai Tuhannya, maka cukuplah bagi kita sebagai rakyat untuk saling mencintai”