Archive for 2009

Apakah Memang Begitu

Monday, March 23rd, 2009


“Lebih baik kita berhasil menjaga sukma kita dan kalah pemilu ketimbang menang lewat cara yang salah” begitu pesan Nehru pada pemilu tahun 1951. Pada saat itu partainya sedang krisis dalam kepemimpinan

 

Menjelang pemilu 9 April nanti adakah pemimpin partai di negeri kita ini yang mengambil sikap seperti itu. Mungkin ada, tetapi yang sangat mungkin adalah tidak ada. Yang ada (dan banyak) justru sebaliknya. Sebagian besar atau bahkan semua partai akan melakukan cara apapun untuk memenangkan pemilu. Mereka (partai-partai itu dan tentu saja calegnya) tidak peduli jika cara-cara itu salah. Dan yang sungguh memalukan mereka tidak merasa salah atau setidaknya merasa malu melakukannya.

 

Apakah memang begitu. Yang penting menang dulu, kemudian berkuasa dan melakukan perbaikan sesuai dengan janji yang mereka ucapkan ketika kampanye. Meskipun berdasarkan catatan masa lalu yang sangat panjang janji-janji itu lebih banyak mereka khianati daripada yang ditepati. Bagaimana mungkin mereka memikirkan kesejahteraan dan ketentraman rakyatnya, sementara di saat yang sama mereka harus mengembalikan modal yang mereka keluarkan selama masa kampanye. Bagaimana mungkin mereka mampu melakukan perbaikan (perubahan), jika ada (banyak) yang nampaknya sekedar iseng-iseng belaka, mencari untung-untungan. Dan dengan bahasa yang tidak saya sukai, mereka sedang mengundi nasib. Hanya ada satu criteria yang mereka miliki yaitu keberanian yang ditopang oleh perasaan ndak tahu malu. Mereka itu orang-orang yang tidak memiliki visi yang jelas, dan punya reputasi yang tidak terpuji meski hanya diketahui oleh orang yang sangat terbatas. Kalau teman dekatnya dikadalin apalagi rakyat yang tidak dikenalnya. Yang begini ini mau jadi penguasa. Entah kenapa saya menjadi jengah dengan tingkah pola mereka, yang kini (sepertinya hingga beberapa minggu kedepan) lagi gencar-gencarnya jual beli suara.

 

Apakah memang begitu. Politik adalah sebuah proses tawar menawar yang mengesalkan, sebuah proses yang digerakkan oleh manipulasi tanpa rasa malu, bosan ataupun geli. Seperti kata Goenawan Mohamad dalam salah satu catatan pinggirnya.

 

Apakah memang begitu. Para politikus adalah orang-orang yang memiliki kecenderungan untuk menggumbar janji tanpa pernah merasa perlu menepatinya. Mari kita tajamkan ingatan kita. Kita rekam semua janji mereka. Kita lihat bagaimana mereka bekerja. Dan kita lihat bagaimana hasilnya. Apakah memang para politikus adalah pembohong besar, yang menyangka bahwa ia mampu melakukan apa saja, termasuk berkelahi diruang sidang.

 

Jika semua itu benar, dan pada akhirnya sebagian dari mereka berkuasa, akankah produk-produk kekuasaan yang mengalir kepada rakyat dalam bentuk kesejahteraan, keadilan dan ketentraman bisa hadir dalam kehidupan bangsa ini.  Tak perlulah kita cari jawabnya jika semua jawaban hanya seperti di awang-awang, atau jika tidak maka jawabannya adalah sebuah jawaban yang pessimistic, putus asa dan kehilangan harapan. Dan jawaban seperti itu tidak perlu banyak tahu karena pessimistic itu menular. Kita ingat saja apa yang pernah dikatakan kata Hasyim Muzadi “kalau kita belum bisa menemukan pemimpin yang mencintai rakyatnya dan mencintai Tuhannya, maka cukuplah bagi kita sebagai rakyat untuk saling mencintai”

As Climate Changes, Is Water the New Oil?

Monday, March 23rd, 2009

if water is now the kind of precious commodity that oil became in the 20th century, should delivery of clean water be the same sort of powerful political force as the environmental movement in an age of climate change?
And, in another sense of green, is there money to be made in a time of water scarcity?The answer to both questions, according to environmental activists watching a global forum on water, is yes. (more…)

Pesan Singkat

Monday, February 23rd, 2009


Kuterima pesan singkat dari kawanku. Prosesi lamaran sudah dilakukan.  Selamat kawan. Ini masa-masa bahagia meskipun terkadang berbagai kejutan yang tidak diharapkan datang. Jangan terkejut nantinya jika dalam masa-masa menjelang kau dan dia menjadi halal dia yang lain tiba-tiba hadir. Hal itu sering terjadi. Kawan kita yang satu baru saja mengalaminya.

Aku terkejut ketika kawan kita itu tiba-tiba menghubungiku dan mengatakan si dia menelponnya untuk mengatakan bahwa ia telah memberikan hatinya sejak tujuh tahun yang lalu. Sejak kawan kita itu sering mengajaknya berjalan pagi selepas subuh, yang sesekali aku turut serta bersama mereka.

Aku berharap kejutan seperti itu tak terjadi padamu, dan kalaupun itu terjadi ingatlah kawan kita yang lain pernah mengalaminya, dan ia tetap maju. Langkah besar selalu membutuhkan kebimbangan untuk menguatkan keyakinan. Jika Goenawan Muhamad mengatakan bahwa kebenaran sering tercapai dengan teriak “Aha! Maka kita bisa meneriakkan “Wowh! Ini dia yang kutunggu-tunggu selama 33 tahun” Kemudian jika saatnya tiba kita bisa  teriak “Oh Yes Oh No! dan lenguhan panjang “Aaaah…

Percayalah setelah saat itu tiba semua keraguan itu akan hilang. Jika tak percayalah tanyalah kawan-kawan kita yang lain.