Baut
Ketika silahturami diantara kita begitu hambar dan kering maka kita berpikir bagaimana cara untuk membasahi dan memberinya rasa, kemudian kita adakan arisan bulanan. Ketika dua daratan terpisah maka kita akan berjuang untuk menyatukannya, kemudian kita bangun jembatan. Sebuah jembatan kokoh karena ditopang oleh pilar-pilar yang menyatu dengan kuat. Pilar-pilar itu kuat karena diikat oleh baut (dan tentu saja dengan murnya) yang rapat dan banyak. Ketika baut (dan tentu saja dengan murnya) itu hilang jembatan itu tak lagi kokoh.
Jembatan Mahakam Hulu (Mahulu) akan diresmikan dalam waktu dekat. Untuk itulah dilakukan pengecekan, dan ditemukan tujuh baut (dan tentu saja dengan murnya) pilar utama jembatan hilang. Karena temuan itu, esoknya dilakukan pengecekan di Jembatan Mahakam Kota (Mahkota) II, dan ternyata temuannya lebih mengejutkan. Bukan hanya baut (dan tentu saja murnya) yang hilang. Pipa pagar pembatas badan jembatan juga hilang.
“Beberapa bagian pagar yang terbuat dari besi itu sengaja dipotong” begitu kata sumber berita
Ternyata tidak hanya itu saja. Di jembatan yang melintang diatas Sungai Mahakam sepanjang 799,80 meter itu, ada lima belas baut (dan tentu saja dengan murnya) yang longgar dan hampir terlepas. Tentu saja jembatan yang memiliki nilai lebih dari 246 miliar itu menjadi cacat, meski bukan cacat permanen dan sangat mudah untuk diperbaiki.
Pak Gubernur menduga hilangnya baut (dan tentu saja dengan murnya) dilakukan oleh orang-orang professional dan direncanakan jauh-jauh hari. Jangan-jangan ini adalah sabotase, begitu katanya. Memang terasa agak berlebihan dugaan itu, tetapi semoga dugaan itu karena pertimbangan kehati-hatian semata, dan bukan karena prasangka terhadap lawan-lawan politiknya.
Agak aneh memang ada sabotase dengan mengambil tujuh baut (dan tentu saja dengan murnya).
Apakah dugaan itu muncul karena Pak Gubernur lupa masih banyak rakyatnya yang hidup dari menjual besi kiloan. Semoga saja Pak Gubernur tidak lupa bahwa tujuh baut (dan tentu saja dengan murnya) itu bisa ditukar dengan sebungkus nasi, bahkan mungkin lebih. Semoga saja bukan karena banyaknya agenda pembangunan kedepan Pak Gubernur menjadi lupa ‘hal-hal kecil tentang orang-orang kecil’ itu. Bukankah mereka bagian dari masalah yang harus diselesaikan.
Nasib mereka sepertinya sama halnya dengan nasib mur. Dari tiga berita tentang hilangnya baut tidak ada yang menyebutkan mur, padahal di foto jelas-jelas yang tergambar adalah baut dan mur. Apakah sebuah mur memang tak begitu penting sehingga tidak perlu ditulis padahal ia juga hilang. Ada tujuh mur yang turut hilang, dan ada lima belas mur yang kendur dan longgar.
Bisa jadi memang begitulah nasib mur, seperti nasib ‘orang-orang kecil’ itu. Ia menempel demikian eratnya. Ia lebih sering dicengkeram dan putar, sehingga ia lebih rentan untuk rusak dan dol. Ia mudah diganti dan disingkirkan. Terkadang ia sengaja disembunyikan karena mulai bopeng. Terkadang pula ia sengaja dipamerkan dan kemudian disembunyikan lagi.
Sepertinya memang dunia ini tak adil. Atau kita yang sebenarnya tidak adil. Jika sekarang banyak baut yang terbuat dari monel, tetapi tidak demikian dengan mur. Jika sekarang banyak orang-orang didaerah menjadi berlimpah harta karena otonomi, tetapi tidak dengan ‘orang-orang kecil’ itu.
Sebuah jembatan tidak kokoh karena baut dan murnya hilang. Sebuah pemerintahan gagal karena para pemimpinnya saling curiga dan sibuk memikirkan lawannya, juga seringkali lupa jika masih banyak rakyatnya yang menderita. Dan bisakah sebuah arisan memberi rasa sebuah silahturahmi yang indah?
September 6th, 2009 at 3:40 pm
nice post..
salam kenal mas
Harmendo
at ” memen.wordpress.com “