Apakah Memang Begitu


“Lebih baik kita berhasil menjaga sukma kita dan kalah pemilu ketimbang menang lewat cara yang salah” begitu pesan Nehru pada pemilu tahun 1951. Pada saat itu partainya sedang krisis dalam kepemimpinan

 

Menjelang pemilu 9 April nanti adakah pemimpin partai di negeri kita ini yang mengambil sikap seperti itu. Mungkin ada, tetapi yang sangat mungkin adalah tidak ada. Yang ada (dan banyak) justru sebaliknya. Sebagian besar atau bahkan semua partai akan melakukan cara apapun untuk memenangkan pemilu. Mereka (partai-partai itu dan tentu saja calegnya) tidak peduli jika cara-cara itu salah. Dan yang sungguh memalukan mereka tidak merasa salah atau setidaknya merasa malu melakukannya.

 

Apakah memang begitu. Yang penting menang dulu, kemudian berkuasa dan melakukan perbaikan sesuai dengan janji yang mereka ucapkan ketika kampanye. Meskipun berdasarkan catatan masa lalu yang sangat panjang janji-janji itu lebih banyak mereka khianati daripada yang ditepati. Bagaimana mungkin mereka memikirkan kesejahteraan dan ketentraman rakyatnya, sementara di saat yang sama mereka harus mengembalikan modal yang mereka keluarkan selama masa kampanye. Bagaimana mungkin mereka mampu melakukan perbaikan (perubahan), jika ada (banyak) yang nampaknya sekedar iseng-iseng belaka, mencari untung-untungan. Dan dengan bahasa yang tidak saya sukai, mereka sedang mengundi nasib. Hanya ada satu criteria yang mereka miliki yaitu keberanian yang ditopang oleh perasaan ndak tahu malu. Mereka itu orang-orang yang tidak memiliki visi yang jelas, dan punya reputasi yang tidak terpuji meski hanya diketahui oleh orang yang sangat terbatas. Kalau teman dekatnya dikadalin apalagi rakyat yang tidak dikenalnya. Yang begini ini mau jadi penguasa. Entah kenapa saya menjadi jengah dengan tingkah pola mereka, yang kini (sepertinya hingga beberapa minggu kedepan) lagi gencar-gencarnya jual beli suara.

 

Apakah memang begitu. Politik adalah sebuah proses tawar menawar yang mengesalkan, sebuah proses yang digerakkan oleh manipulasi tanpa rasa malu, bosan ataupun geli. Seperti kata Goenawan Mohamad dalam salah satu catatan pinggirnya.

 

Apakah memang begitu. Para politikus adalah orang-orang yang memiliki kecenderungan untuk menggumbar janji tanpa pernah merasa perlu menepatinya. Mari kita tajamkan ingatan kita. Kita rekam semua janji mereka. Kita lihat bagaimana mereka bekerja. Dan kita lihat bagaimana hasilnya. Apakah memang para politikus adalah pembohong besar, yang menyangka bahwa ia mampu melakukan apa saja, termasuk berkelahi diruang sidang.

 

Jika semua itu benar, dan pada akhirnya sebagian dari mereka berkuasa, akankah produk-produk kekuasaan yang mengalir kepada rakyat dalam bentuk kesejahteraan, keadilan dan ketentraman bisa hadir dalam kehidupan bangsa ini.  Tak perlulah kita cari jawabnya jika semua jawaban hanya seperti di awang-awang, atau jika tidak maka jawabannya adalah sebuah jawaban yang pessimistic, putus asa dan kehilangan harapan. Dan jawaban seperti itu tidak perlu banyak tahu karena pessimistic itu menular. Kita ingat saja apa yang pernah dikatakan kata Hasyim Muzadi “kalau kita belum bisa menemukan pemimpin yang mencintai rakyatnya dan mencintai Tuhannya, maka cukuplah bagi kita sebagai rakyat untuk saling mencintai”

Leave a Reply