Archive for 2009

Baut

Thursday, April 9th, 2009


Ketika silahturami diantara kita begitu hambar dan kering maka kita berpikir bagaimana cara untuk membasahi dan memberinya rasa, kemudian kita adakan arisan bulanan. Ketika dua daratan terpisah maka kita akan berjuang untuk menyatukannya, kemudian kita bangun jembatan. (more…)

Unit 1: Present continuous (I am doing)

Monday, March 30th, 2009


A.    Study this example situation

Ann is in her car. She is on her way to work.

This means: she is driving now, at the time of speaking. The action is not finished (more…)

duh…REDD

Sunday, March 29th, 2009


Hingga kini, setelah hampir 4 tahun sejak diusulkan, proyek redd masih seperti ‘mimpi basah di siang bolong’. Proyek-proyek red melangkah dengan gagah meski hanya dengan sedikit harapan. Ada banyak sumberdaya (dana, waktu, tenaga) yang sudah dikeluarkan dan katanya lebih banyak lagi yang disiapkan jika proyek tersebut berhasil.

 

Tetapi, akankah redd mampu mengatasi permasalahan iklim yang saat ini sedang terjadi. Akankah redd mampu membuat kesejahteraan masyarakat di sekitar hutan menjadi lebih baik. Akankah redd mampu memberikan keuntungan financial kepada Negara kita. Jawaban-jawaban dari pertanyaan itu semuanya masih samar, kabur, buram dan tidak jelas. Dan perlahan-lahan saya mulai berpikir sepertinya proyek redd tujuan utamanya bukan untuk mencari jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.

 

Masalah perubahan iklim jelas tidak akan selesai dengan redd, selama negara maju (USA) masih enggan untuk mengurangi emisinya. Karena redd kita menjadi lupa bahwa lebih dari 80 persen penyumbangnya berasal dari negara maju, dan tidak sampai 20 persen yang berasal dari deforestasi dan degradasi hutan di negara-negara berkembang.

 

Kini, kita lebih banyak berkutat memenuhi persyaratan-persyaratan untuk bisa mendapatkan dana dari proyek redd. Hampir semua lembaga konservasi  internasional memiliki lokasi-lokasi untuk dimasukkan dalam skema pembiayaan proyek tersebut. Kita tidak lagi bertanya berapa besar negara maju harus menurunkan emisinya. Kita sibuk memenuhi ini dan itu, yang belakangan saya mulai berpikir, syarat-syarat itu tidak akan pernah terpenuhi. Akan ada saja yang kurang. Dan akhirnya, proyek ini dianggap gagal, dan kita akan cari proyek-proyek yang lain. Bukankah dulu CDM menawarkan hal yang kurang lebih serupa, yang kemudian gagal, dan muncullah redd.

 

Memang benar dalam beberapa hal mekanisme redd merupakan perbaikan dari mekanisme CDM yang pernah gagal. Namun patut juga kita berhati-hati bahwa redd bisa jadi upaya negara maju (terutama USA yang menyumbang emisi 21,44 persen dari seluruh emisi yang di keluarkan oleh planet ini) untuk ‘nyelimurkan’ kita dari kewajiban mereka menurunkan emisinya.

 

Dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan oleh Center for Social Forestry (CSF) Universitas Mulawarman, seorang peserta mengatakan “kita yang mau jual kok kita yang repot”. Seorang peserta yang lain mengatakan “jangan-jangan ini hanyalah sekedar tipu-tipu mereka saja, dan tidak akan ada uang yang turun ke masyarakat di sekitar hutan”. Kalau kita cermati, rasanya tidak berlebihan kekhawatiran-kekhawatiran seperti itu.

 

Lebih jauh, jangan-jangan, usulan Koalisi Bangsa-bangsa Hutan Tropis (Coalition of Rainforest Nations)  tentang redd pada COP 11 yang dipimpin oleh Kosta Rika dan Papua New Guinea sebenarnya hasil dari intervensi pihak lain yang bukan anggota koalisi. Bukankah sudah menjadi permakluman bahwa pemilik modal mampu dan terbiasa melakukan hal-hal semacam itu. Bukan bermaksud untuk menebar rasa curiga dan menyuburkan prasangka, tetapi tidak ada salahnya kita tetap waspada dan berhati-hati, demi harga diri dan kedaulatan bangsa. Karena dengan bertambahnya usia, semakin banyak wajah imperialisme, yang semuanya nampak cantik dan membuai.

 

Lantas apakah kita perlu bersatu padu memboikot proyek redd? Rasanya itu juga tidak perlu. Meski untuk merasa optimis sepertinya juga cukup berat, ya kita melangkah saja dengan pesimisme, dengan tetap menajamkan hati dan membuka pikiran seluas-luasnya. Terkadang awal yang pesimisme juga menghasilkan sesuatu yang menakjubkan. Bukankah setiap perjalanan adalah separuh gelap, begitu kata Goenawan Mohamad.

 

Satu lagi yang perlu dicatat adalah redd bisa menjadi boomerang bagi lembaga-lembaga konservasi yang menginisiasinya. Di beberapa tempat, dimana proyek redd diinisiasi, lembaga-lembaga tersebut punya kecenderungan untuk ‘menjanjikan’ sesuatu (uang) yang akan diterima oleh daerah. Kecenderungan ini dilakukan karena mereka dikejar oleh target-target yang harus dicapai, misalnya harus terbentuk institusi lokal yang didalamnya semua pihak terlibat, harus ada SK, harus ada pendanaan dari Negara (APBN/APBD). Jika kemudian apa yang pernah dijanjikan itu tak kunjung datang, dengan tanpa dosa kita bilang “proyek selesai bulan, depan kita akan pergi dari sini”.

 

Akhirnya orang-orang lokal yang tinggal disekitar hutan diberikan dana hibah ala kadarnya, yang kemudian bisa dipakai untuk dangdutan, dan kemudian beramai-ramai mendendangkan lagu

 

”…kau yang berjanji, kau yang mengingkari, kau yang memulai, kau yang mengakhiri, oh nasib ya nasib mengapa begini…”.

 

Dan mereka yang hampir selalu salah ketika menyebutkan kepanjangan redd menemukan istilah baru untuk REDD yaitu Repot Demi Dangdut.