para kancil
Sunday, July 27th, 2008Kini, lebih sering dari biasanya, kulihat tokoh-tokoh nasional muncul di televisi, orang-orang itu meyakinkan kita semua pemirsa televisi untuk sesuatu yang sangat mungkin mereka sendiri tidak yakin. Melihat satu demi satu dari mereka mengemas dirinya dan kemudian menjualnya, ada kekaguman yang tiba-tiba berkelebat, ada ketidakpercayaan, mungkinkah yang mereka katakan benar, ada semangat mengelora, dalam jiwaku kutanamkan, aku bisa mengubah keadaan.
Ada banyak rasa bersama dengan munculnya wajah dan suara-suara orang itu, terkadang aku suka, sering juga aku merasa jengah dan muak, mereka sedang memanipulasi diri dan membuka mata masyarakat dengan warna baru, yang bisa jadi warna itu tidak jelas bagi kita semua. Pada akhirnya nanti semuanya menjadi kabur dan sengaja dikaburkan. Hanya satu yang jelas dan tidak kabur, orang-orang itu sedang bersaing, mengingatkanku akan istilah ’survival of the fittest’
Istilah tersebut dipakai oleh Herbert Spencer (1820-1903), istilah tersebut bisa diartikan ‘hanya yang terkuat yang bertahan’. Terjemahan tersebut kemudian berkembang menjadi ‘hanya yang mampu beradaptasi yang bertahan’. Nampaknya istilah itu juga berlaku dalam dunia politik. Dengan filosofi kancil yang ditanamkan sejak kecil istilah tersebut berkembang menjadi ‘hanya kancil yang mampu bertahan’
