Sepertinya Ban Ki-moon sebel dengan kita

Ban Ki-moon, Sekjen PBB, membuka pesannya dengan menggunakan kata-kata yang menurut saya cukup keras. Pesan itu disampaikan dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun 2008. Kalimat itu menohok kita semua, seharusnya. Kalau kita tidak merasa begitu, mungkin kita memang masuk golongan orang-orang yang bebal.

Addiction is terrible thing, begitu kalimat yang dipilih Ban Ki-moon untuk membuka pesan singkatnya. Kalimat itu merujuk pada gaya hidup kita selama ini yang sangat buruk dan mengerikan. Dengan tema Kick the CO2 Habit! Towards a Low Carbon Economy, jelas bahwa  kalimat pembuka tersebut bukan dimaksudkan sebagai kecanduan akan narkoba. Tetapi kecanduan kepada hal yang lain, seperti konsumsi energi atau sejenisnya.

Kemudian dia melanjutkan bahwa kecanduan (addiction) atau ketergantungan mengontrol kita, membuat kita menyangkal dari kebenaran-kebenaran penting, dan membutakan kita dari konsukensi tindakan yang kita lakukan.

 

Terrible dalam kamus karangan John M. Echols dan Hassan Shadily, terbitan PT Gramedia Pustaka, diterjemahkan dengan buruk sekali, mengerikan, atau dasyat.

 

Mengapa akhirnya Sekjen PBB mengawali pesannya dengan kalimat yang demikian keras.

 

Barangkali Ban Ki-moon sudah muak dengan gaya hidup sebagian besar dari kita. Dari waktu ke waktu gaya hidup kita semakin mengerikan dan cenderung rakus. Kita menginginkan semua hal ada ditangan kita. Kita tidak lagi mampu membedakan apakah sesuatu itu menjadi kebutuhan kita, atau sekedar memuaskan keinginan kita. Gaya hidup kita menyebabkan banyak hal semakin langka dan mahal, terutama energi.

 Energi yang tak pernah cukup 

Kayu dan minyak bumi kini mulai berkurang produksinya. Kemudian kita beralih  ke batubara. Selanjutnya kita merencanakan juga untuk memakai tenaga nuklir untuk memenuhi kehausan kita akan energi. Semua itu bukan tanpa dampak negatif, bahkan nuklir sangat mungkin menjadi mimpi buruk bagi kita semua.

 

Selain itu kita terus mencoba mencari alternatif energi lain. Biofuel (energi berbahan nabati) menjadi pilihan. Biofuel kita anggap lebih anggap lebih aman dan ramah lingkungan. Setelah berbagai ujicoba tanaman jarak (Jatropha sp) memenuhi syarat untuk itu.

 

Tetapi apakah pilihan itu mampu memenuhi kehausan kita akan energi yang tak akan pernah merasa cukup. Bukankah pengembangan tanaman jarak membutuhkan lahan produktif yang sangat luas untuk menghasilkan energi yang sepadan dengan biaya produksinya.

 

Catatan seorang blogger (www.timpakul.hijaubiru.org) menyebutkan bahwa Brasil dan Amerika Serikat yang telah puluhan tahun mengembangkan bioetanol dari tebu dan jagung malah memerlukan sumber energi yang jauh lebih banyak dalam proses pengolahannya, yang tentunya berasal dari sumber energi fosil.

 

Akankah kita masih akan mengembangan biofuel. Apakah ini tidak akan menimbulkan masalah lain karena kita akan kehilangan banyak lahan produktif Masyarakat. Sangat mungkin juga kita akan membabat ribuan hektar hutan untuk maksud itu. Kita akan mengajak masyarakat untuk menanami lahannya dengan tanaman jarak. Kemudian mereka akan kehilangan lahan pangannya, dan berubah menjadi masyarakat pembeli (consumer)

  Membeli dan terus membeli 

Dalam masyarakat pembeli, menurut JJ Amstrong Sembiring, terdapat suatu adopsi cara belajar menuju aktifitas konsumsi dan pengembangan gaya hidup. Pembelajaran ini dilakukan dalam bentuk iklan, yang cenderung memaksakan nilainya.

 

Tanpa sadar paksaan itu terus datang melalui televisi, koran, radio dan media lainnya. Selanjutnya informasi yang disajikan dalam bentuk iklan itu menjadi nilai-nilai hidup yang kita pakai, dan gaya hidup kita berkembang seperti layaknya sebuah iklan. Kita tidak lagi peduli dengan nilai tukar dan fungsi. Kita membangun diri kita dengan sesuatu yang kita beli. Membeli dan terus membeli telah menjadi bagian dari gaya hidup kita. Celakanya, kita sangat bangga akan hal itu.

 Tendang gaya hidupmu 

Seberapapun banyaknya energi yang ada tak akan pernah cukup. Seberapapun banyaknya barang yang telah kita miliki kita tidak akan pernah berhenti membeli. Jika kita tak mau mengubah gaya hidup yang demikian mengerikan, maka semua tak akan pernah cukup.

 

Fakta-fakta telah nampak di depan mata kita. Kebenaran telah ditemukan oleh para ilmuwan. Bumi kita sedang terancam oleh berbagai bencana yang disebabkan oleh perilaku kita. Masihkah kita menyangkal bahwa yang harus kita lakukan sejak saat ini adalah mengubah gaya hidup. Memang ada pilihan-pilihan lain untuk keluar dari fakta-fakta penting tentang bencana perubahan iklim, tetapi semua pilihan itu pada akhirnya menuntut perubahan gaya hidup kita.

 

Siapa yang harus memulai?

 Konservasionis harus mengambil langkah didepan 

Munafik namanya jika pekerja konservasi hanya mampu berteriak tentang penyelamatan lingkungan, tanpa melakukan perubahan dalam dirinya. Sungguh memalukan jika lembaga konservasi tidak mengadopsi nilai-nilai konservasionis dalam kegiatan sehari-hari. Jika mereka (konservasionis) saja yang tahu, paham dan kemudian berteriak tentang penyelamatan lingkungan tidak mau mengubah gaya hidupnya, bagaimana mungkin orang lain mau berubah.

 

Pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar pekerja konservasi sangat dekat dengan kemunafikan, dan lembaga konservasi yang ada sungguh memalukan. Kita masih lebih suka memilih buah impor daripada buah lokal, kita lebih memilih memakai tisu daripada saputangan, kita lebih memilih memakai AC daripada menanam pohon disekitar rumah kita. Kita lebih suka menghabiskan bahan bakar daripada jalan kaki atau naik sepeda, bahkan untuk jarak yang sangat dekat sekalipun.

 

Lembaga konservasi (entah lokal, nasional maupun internasional) seolah tak punya tanggungjawab moral, bahwa mereka harus menerapkan perilaku ramah lingkungan menjadi sebuah kebijakan, yang harus dipatuhi oleh semua karyawan agar tidak terus berpura-pura telah menyelamatkan lingkungan.

 Sangat mungkin bencana  yang terus melanda negeri kita ini, bukan disebabkan oleh pemerintah kita yang payah, melainkan oleh kepura-puraan orang-orang yang katanya bercita-cita menyelamatkan lingkungan. Dan rasanya pantas saja pertolongan Tuhan tidak datang.

One Response to “Sepertinya Ban Ki-moon sebel dengan kita”

  1. Bocah Alas Says:

    Namanya juga candu.. kalo dah kecanduan salah satu solusinya biasanya dimasukan ke tempat/program rehabilitasi.. nah di bumi ini diamana tempatnya ya?? kalo ternyata lebih banyak yang kecanduan daripada yang tidak bisa jadi hukumnya terbalik yang tidak kecanduan itu sebenarnya yang harus direhab, sperti kalo sebagian besar (banyak) orang gila maka dia akan melihat sebagian yang orang yang kecil(sedikit) itulah yang nda beres pikirannya..hehe…
    BTW Ban Ki Moon ikut kecanduan juga nda ya???..Kalo kecanduan juga ya marideh kita sama-sama mabok..hehe…

Leave a Reply