Mendebarkan, sepertinya merupakan ungkapan yang tepat untuk mengambarkan rasa cemas tetapi mengasyikkan, rasa takut tetapi ada keinginan untuk mencoba.
Perasaan itu kembali saya rasakan ketika saya menyusuri hulu sungai segah hingga beberapa kilometer dari permukiman terakhir yang ada di hulu sungai tersebut. Ini bukan yang pertama kali saya menyusuri hulu sungai, tetapi tetap saja hulu sungai selalu memberi saya sesuatu yang berbeda. Hampir semua hulu sungai mempunyai karakteristik yang sama. Banyak jeram-jeram yang harus dilalui, dengan arus yang deras, bongkah-bongkah batu di dasar yang siap memecahkan badan kapal dan membuat patah baling-baling, batuan dengan sisi yang tajam menjadi begitu menakutkan tatkala perahu kita mendekati salah sisinya dan pada saat yang sama arus air menghantam begitu keras.
“selama mesin tidak mendadak mati kita aman” begitu kata sang motoris.
Di beberapa tempat kami juga mendapati cekungan-cekungan yang airnya seolah-olah tak bergerak. Pada saat-saat seperti itu saya selalu ingin langsung terjun, tetapi hingga beberapa kali ke hulu sungai dan menjumpai tempat serupa, saya tidak pernah melakukanya. Bukan karena takut tetapi pasti akan menganggu perjalanan, setidaknya kami akan terlambat sampai tujuan. Namun demikian jika saya diberi kesempatan untuk itu, sebelum terjun hati saya pasti berdebar-debar, dan ada banyak pertanyaan yang tertahan.