untuk bumi, gaya hidup yang harus berubah

Dua hari lagi, 38 tahun yang lalu, senator dari Negara bagian Wisconsin, Gaylord Nelson bersama jutaan orang dari seluruh Negara bagian Amerika Serikat melakukan demo untuk usaha pelestarian udara, air bersih dan alam. Tidak kurang dari 1500 perguruan tinggi dan 10.000 sekolah ikut ambil bagian dalam aksi yang hingga saat ini kita peringati sebagai hari bumi. Delapan tahun sebelumnya, yaitu tahun 1962, dari Springdale, Pennsylvania, Rachel Carson menyentakkan warga dunia dengan menerbitkan Silent Sprint. Dan selanjutnya hingga hari ini kita warga dunia hanya terus berceloteh untuk menyelamatkan bumi.

Perjalanan warga dunia menyelamatkan bumi

Perjalanan dimulai tahun 1962, ketika Carson mengisahkan bagaimana alam di musim semi yang semula cerah ceria penuh dengan suara burung berkicau dan warna-warna bunga yang sedang mekar, tiba-tiba sunyi karena semua itu hilang seketika. Kesadaran baru dalam yang dibawa Silent Spring membuka mata tidak hanya warga Amerika Serikat, tetapi juga warga dunia, yang ditandai dengan usulan dari Swedia untuk menyelenggarakan konferensi tingkat dunia. Usulan tersebut disetujui dan akhirnya diselenggarakan konferensi tingkat tinggi di Stockholm pada tahun 1972.

Sejak konferensi itu badan-badan dunia baru dibentuk untuk tujuan penyelamatan lingkungan. Salah satunya adalah Komisi Brundtland, salah satu hasilnya adalah laporan yang berjudul Our Common Future. Dalam laporan tersebut istilah pembangunan berkelanjutan diperkenalkan dan didefinisikan. Selain laporan tersebut, Komisi Brundtland juga mengusulkan untuk melaksanakan suatu konferensi tingkat dunia untuk membicarakan lingkungan-lingkungan global, yang kemudian diselenggarakan di Rio de Jeneiro 1992.

Konferensi di Rio adalah rangkaian kompromi yang sulit, begitu menurut Boutros Boutros-Gali, Sekretaris Jenderal PBB ketika itu. Pertemuan tersebut menghasilkan berbagai kesepakatan, salah satunya adalah Forestry Principles (prinsip-prinsip tentang hutan). Forestry Principles adalah kesepakatan khusus berkaitan dengan kehutanan menunjukkan bahwa hutan memiliki posisi yang penting dalam masa depan umat manusia.

Perjalanan penting selanjutnya terjadi pada akhir 2007 di Bali. Pertemuan selama dua minggu itu menurut banyak pihak adalah pertemuan untuk melunakkan hati Amerika Serikat. Hasil terbesar dari Bali adalah Bali Road Map. Selain itu yang saat ini yang lagi menjadi isu hangat adalah Reduce Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD), sebuah mekanisme pembiayaan dari negara industri untuk negara pemilik hutan. REDD merupakan salah satu bentuk perdagangan karbon.

Namun demikian jika merujuk pada kesepakatan-kesepakatan sebelumnya, Bali Road Map dan REDD menurut beberapa pihak adalah sebuah kemunduran. Pendapat lain menyatakan bahwa mekanisme REDD lebih baik dari Clean Development Mechanism (CDM), setidaknya untuk Indonesia, tetapi apakah hal itu juga lebih baik dalam konteks penyelamatan bumi?

Pro dan kontra REDD

REDD sebenarnya bukanlah hal baru yang tiba-tiba muncul di bali. Beberapa tahun sebelumnya di Montreal, pada saat COP 11, salah satu keputusannya adalah tentang perlunya pembahasan insentif bagi Reduced Emission from Deforestation in Developing Country (atau di singkat RED), degradasi hutan belum dimasukkan. RED merupakan inisiatif Papua Niugini dan Kosta Rika yang mengusulkan perlu adanya insentif bagi negara yang melakukan konservasi, dan Brazil mengusulkan perlunya kompensasi bagi Negara yang mampu mencegah deforestasi. Di Bali, Indonesia mengharapkan RED menjadi REDD, dimana degradasi hutan juga dimasukkan.

Sejak ide itu keluar pro dan kontra terus mewarnai media massa, bahkan hingga mekanisme REDD sedang akan diujicobakan perdebatan terus terjadi. Di kampus Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman, REDD memicu perseteruan antar alumni dan beberapa dosen.
Pemerintah mengatakan bahwa REDD memberi kesempatan kepada Negara untuk mendapatkan keuntungan financial dari potensi hutan, tanpa menebang hutan. Lembaga konservasi internasional menyambut peluang itu sebagai tambahan dana untuk kegiatan konservasi dimasing-masing wilayah kerja mereka. Beberapa pihak lain melihat ini sebagai sebuah bentuk baru penguasaan pemilik capital untuk menguasai dan mengawasi hutan di Negara berkembang.

Mekanisme REDD yang ditawarkan Indonesia dalam persidangan konferensi PBB mengenai perubahan iklim di bali berpotensi membangkrutkan bangsa kalau diterapkan ditengah lemahnya penegakan hukum dan kejahatan lingkungan (kompas, 4 Desember 2008).

Beberapa pihak yang pesimis dengan mekanisme REDD menyatakan kekawatirannya bahwa REDD hanya akan memberi manfaat kepada lembaga keuangan yang mengelola dana tersebut dan pihak ketiga yang dalam hal ini bisa lembaga konservasi, konsultan atau lembaga penelitian. Sedangkan masyarakat sekitar hutan belum tentu mendapatkan manfaat langsung.

Selain itu memang kita harus berhati-hati agar jangan sampai mekanisme REDD menjadi beban utang baru, seperti kekawatiran yang disampaikan oleh Emmy Hafid, Direktur Eksekutif Green Peace Asia Tenggara, “hati-hati dengan REDD karena jika kita ternyata mampu melestarikan hutan sebagai penangkap karbon, uang yang sudah didapat akan langsung dikonversi menjadi utang”

Gagasan untuk mencegah kerusakan hutan atau deforestasi dengan memberikan kredit bagi pihak-pihak yang bisa melestarikan hutan. Namun gagasan ini dikhawatirkan justru menjadi semacam ijon bagi pelestari hutan. (kompas, 14 desember 2007).

Gaya hidup yang harus berubah (a call for climate)

Mengingat perjalanan yang begitu panjang. Dan agar semua itu tidak hanya jadi celoteh belaka, maka perayaan hari ini semestinya bukan hanya melestarikan tradisi melainkan pembaharuan komitmen. Seperti yang pernah diucapkan oleh Presiden Palau, Tommy E Remengesau “…jika ingin merespon perubahan iklim, gaya hidup memang harus berubah”
Siapkah kita untuk mengubah gaya hidup. Siapkah kita untuk memaknai ‘a call for climate’ dalam kehidupan kita ssehari-hari. Siapkah kita untuk mengurangi pemakaian tisu. Siapkah kita untuk mengurangi pemakaian AC. Siapkah kita mematikan lampu ketika penerangan tak diperlukan. Siapkah kita mematikan tv ketika tak seorangpun yang menonton. Siapkah kita untuk lebih mengkosumsi buah local daripada buah impor. Siapkah kita untuk semua itu.
Jika kita belum siap, maka benar adanya bahwa sejak beberapa tahun yang lalu kita hanya berceloteh untuk menyelamatkan bumi.

Leave a Reply