bersama kawan-kawan
Wednesday, March 26th, 2008“kenapa ruangan ini panas betul” kata kawanku.
kemudian ia mengambil remote AC. “tolong tidak usah dinyalakan” kataku padanya.
“oh aku tahu, kulitmu tipis, jadi ga tahan dingin”
aku diam saja, memang sepertinya lebih baik begitu, kasih saja senyum beres. ia tidak jadi menyalakan AC dan kemudian duduk disampingku. kemudian ia bercerita dan aku mendengarkan. ia bercerita sambil sesekali tertawa, dan ketika tertawa maka perutnya yang gendut itu ikut bergoyang-goyang. sesekali aku memukul perutnya. ketika ia cerita aku bingung harus komentar karena ia sedang menceritakan orang lain. biar tidak kelihatan pasif, kupukul saja perutnya yang gendut. ia tidak akan marah karena itu.
“You like Bolivian” kata seorang bule yang panjang badannya hampir dua kali panjang tubuhku. Kemudian aku balik bertanya kepadanya dengan bahasa inggris yang berlepotan, apakah anda yakin. selanjutnya kami ngobrol sekitar sepuluh menit, tentang aku yang katanya mirip orang Bolivia. ketika si bule itu berbicara, aku mencoba sedikit memiringkan kepala agar telinga menangkap semua gelombang suara yang diucapkan si bule itu. karena semua kata yang diucapkannya mendesis, sepertinya semua kata bahasa inggris ada huruf S nya. Hal yang sama juga dilakukan oleh si bule itu ketika aku sedang berbicara. kesimpulan dari obrolan itu adalah wajahnya adalah wajah yang sangat pasaran di Bolivia. Sepulang dari obrolan itu aku mampir ke mal dan toko buku. aku mau beli poster yang gambarnya Evo Morales. aku bandingkan apakah aku memang seperti kata si bule.
“ga dinyalakan AC nya” kata pak sopir yang kebetulan lewat di ruangan itu. memang sengaja pintu kubuka, karena sejujurnya aku merasa sedikit panas. Kemudian Pak Sopir meraih remote yang memang berada di dekat pintu. “tidak usah dinyalakan Pak” kataku. kemudian pak sopir itu pergi. aku lupa apakah tadi aku telah memberinya senyum.
“sometimes I loss my vocabulary” kata kawanku yang berasal dari Malaysia kepada kawanku yang berasal dari Papua Nugini. ketika itu kami bertiga sedang duduk di restoran. “Everybody feels that” kataku ikut nimbrung. kemudian kami bertiga ngobrol tentang bahasa inggris, dan diantara kami bertiga akulah yang paling sering kehilangan kata-kata.
cetuk, begitu bunyi dari laptopku, pertanda ada pesan masuk. kubuka….dan ternyata kawanku yang jauh
