Archive for March, 2008

hatimu…hatimu…hatimu

Friday, March 28th, 2008

dia sedang bercerita kepada kalian, jadi dengarkan saja, karena dia mengatakan dia sedang membawa kumpulan kebajikan. dia bilang menemukannya dalam perjalanan ke awan. ada-ada saja dia itu. tetapi memang begitulah dia. menyenangkan untuk dijadikan teman, meskipun seringkali menyimpan banyak pertanyaan. dia memiliki dunianya sendiri. dunianya lebih banyak ada di awan. dia sering diam, tetapi ia selalu mendengarkan. dia jarang bersuara, tetapi ia terus berbicara. begitulah dia, biarkan saja. dia tidak abadi. dia bisa mati dan membeku dan menghitam, jadi dengarkan dia bicara. jangan bunuh dia selagi ia masih bisa bicara. jangan matikan dia hanya karena dia terus berbeda. jangan usir dia karena ia tak pernah bahagia. dialah satu-satunya alasan mengapa kita layak disebut manusia.

bercerita

Friday, March 28th, 2008

dari luar terus kudengar suara-suara perempuan
mereka bercerita tentang apa saja
katanya bercerita bagus untuk kesehatan jiwa
bercerita indah untuk sebuah pertemanan
bercerita membuka kebuntuan
bercerita indah untuk didengarkan

asalkan bukan cerita tentang aib seorang teman

langkah pertama

Friday, March 28th, 2008

bangunan itu terletak di sebelah pasar tradisonal. pagar kayu. dua tempat parkir di kanan kiri bangunan itu. tidak ada mobil, hanya motor dan sepeda. masuk kedalam bangunan itu terasa adem, meski tanpa AC. mungkin karena di luar sangat panas, atau karena orang-orang dibangunan itu yang hatinya teduh. ada tiga ruang. ruang pertama berukuran sekitar empat kali tujuh meter, yang berisi lima orang petugas lengkap dengan meja dan kursi, beberapa dari mereka memakai kopiah. ruang kedua adalah ruang kepala, begitu yang tertulis di pintu, ruang itu sedang kosong. ruang pertama dan kedua saling berhadapan.

ruang ketiga adalah ruang yang ketika itu sedang berlangsung prosesi seorang lelaki yang menyempurnakan agamanya. ia memakai baju putih. duduk disampingnya seorang perempuan yang juga memakai baju putih dan berkerudung. ucapan yang pertama salah, dan seorang perempuan yang duduk disamping laki-laki itu mengatakan “bapak sih goyang duluan”. empat orang lain yang duduk di belakang mereka kontan tertawa. kemudian laki-laki memakai baju batik dan berkopiah itu tersenyum, “kalau dia yang goyang duluan, saya yang menerima” katanya.

bangunan itu sangat sederhana sekali. dalam bahasa yang lebih kasar bisa kita bilang jelek. keramiknya hanyalah keramik berwarna abu-abu gelap yang merupakan jenis keramik kuno yang harganya paling murah.

“sah…sah” terdengar suara dari ruang ketika. beberapa orang yang tadi duduk di belakang maju ke depan dan menyalami laki-laki dan perempuan yang memakai baju hitam.kemudian mereka keluar dari ruang itu. laki-laki berbaju putih melepas kopiahnya dan memasukkan ke kantong celananya. ia berjalan di belakang perempuan berbaju putih. mereka berhamburan di tempat parkir. mencari motor masing-masing. laki-laki berbaju putih membonceng seorang perempuan separuh baya yang berbaju hijau. perempuan berbaju putih dibonceng oleh seorang perempuan yang berbaju ketat dengan rambut terurai sepanjang bahu.

orang-orang itu pergi. sepasang kekasih duduk di kursi panjang depan ruang pertama. perempuan memakai sandal jepit. laki-laki memakai sandal gunung. ada tato di jari laki-laki itu. gambarnya tidak jelas, hanya bercak hitam. katanya, mereka sedang menunggu surat pengantar untuk mereka menjadi halal saling bersentuhan.

laki-laki berkopiah dan berjenggot yang dijidatnya ada dua bulatan yang menghitam, memberi isyarat dengan tangan kepada laki-laki yang duduk di meja panjang di depan ruang kedua. laki-laki itu masuk dan duduk dihadapan laki-laki berjenggot yang berkopiah dan hitam jidatnya, “mau menikah di beji” kata laki-laki itu. kemudian ia memasukkan mengabungkan beberapa kertas, melipatkan dan memasukkannya ke dalam amplop, “semuanya sudah lengkap di sini, tinggal ditambahi foto” katanya lagi.