Albert Einstein pernah berceloteh “Tuhan tidak bermain dadu dengan alam”. Stephen W. Hawking mengatakan “Tuhan tidak hanya bermain dadu, tetapi melemparkannya ke tempat yang tidak kita ketahui”. Mungkinkah Tuhan mengajarkan kita untuk bermain dadu agar kita memahami alam semesta?
Saya tidak tahu jawabannya, tetapi saya juga tidak sedang menganjurkan atau mempengaruhi anda untuk memiliki hobi baru bermain dadu dan mengadu nasib dipermainan itu. Jika demikian betapa berdosanya apa yang saya lakukan. Sebenarnya saya tidak mengerti mengapa Einstein mengambil contoh sebuah permainan dadu, kemudian Hawking melakukan hal yang sama untuk membantu mereka memahami alam semesta. Akhirnya saya mengikuti mereka untuk membantu saya memahami bagaimana alam semesta ini terbentuk. Saya bermain dadu sambil membaca bukunya Einstein dan Hawking. Hasilnya, saya bingung. Saya tidak ingin bingung sendiriian, dan dengan segala keikhlasan saya membaginya dengan anda.
Sebelumnya ada hal yang ingin saya sampaikan mengapa akhirnya saya tertarik mencari perjelasan tentang bagaimana alam semesta ini terbentuk. Semuanya berawal dari seringnya orang-orang mengatakan bahwa kiamat sudah dekat setiap kali ada bencana besar. Pada berbagai kesempatan beberapa orang dekat saya juga mengatakan hal-hal semacam itu.
Seorang teman saya mengatakan mungkin kiamat memang tidak lama lagi dan bencana ini mengingatkan kita semua untuk segera bertobat. Seorang teman lagi mengatakan bahwa alam hanya sedang menjaga keseimbangan dan kita tidak perlu panik, planet ini akan baik-baik saja, karena menurutnya alam semesta ini tidak akan pernah berakhir sebagaimana juga tidak pernah berawal. Pada kesempatan lain saya juga sering mendengar beberapa ustad yang mengajak kita segera mendekatkan diri kepada Tuhan karena tanda-tanda bahwa umur alam semesta ini tidak lama lagi. Benar bahwa kita memang harus segera memperbaiki diri, bertobat dan mencoba untuk lebih dekat dengan Tuhan, tetapi apakah benar bahwa umat manusia tidak akan hidup lebih lama lagi di bumi ini.
Jujur saja saya kurang percaya, akal saya kurang bisa menerima alasan yang disampaikan oleh teman saya, dan juga oleh beberapa ustad itu. Saya berpikir mereka kurang pantas untuk ‘menduga’ umur alam semesta jika mereka tak sedikitpun memahami bagaimana awal mula semesta ini terbentuk. Tetapi saya juga tidak percaya jika alam semesta ini abadi. Dan sungguh menyedihkan jika akhirnya dikatakan bahwa asal mula alam semesta bukan urusan kita. Manusia macam apa kita ini jika tak sedikitpun tergerak untuk mengetahui asal mula tempat kita lahir, hidup dan mati. (more…)