diam bagian dari irama
Tuesday, February 19th, 2008“diam bagian dari irama” begitu kata temanku. saat ini kalimat itu sedang ada dalam pikiranku, antara menerima dan menolak, meski tidak ada pilihan untuk itu. benar bahwa kata tidak akan pernah cukup untuk merepresentasikan kita. kata terlalu sederhana untuk bisa merepresentasikan kita yang rumit dan berbelit-berbelit, yang diam tetapi mendendam, yang bicara tetapi berbohong, yang memberi tetapi meminta, yang bertuhan tapi tak sembayang, yang berakal tetapi enggan berpikir, yang berkaki tetapi enggan berjalan. kita rumit dan berbelit-belit, bertatapan kita diam, dibelakang kita bertengkar.
“diam bagian dari irama” aku masih memikirkan kata-kata itu. sayangnya temanku tidak ada disini, kata-kata itu akan kubawa hingga aku bertemu dengannya. sementara aku menunggu waktu bertemu dengannya biarlah kata-kata itu menjadi bahan renungan harianku, karena kata-kata itu kini menjadi sangat penting bagiku.
