sate
Thursday, February 28th, 2008kawanku mengajakku makan sate. ia menceritakan kelezatan sate dengan ekspresi yang sulit kugambarkan dengan kata-kata. aku dengarkan saja dia cerita tentang sate yang menurutnya tidak hanya enak tetapi juga murah. terakhir dia bilang, jadi gimana satenya. oke kalau gitu kita coba malam ini makan sate di sana, kataku. sekitar jam tujuh kami pergi ke warung sate itu. warung sate madura, begitu papan nama yang tertulis didepan warung. tempatnya cukup sederhana, hanya berupa bangunan rumah kecil dari kayu, jika terisi sepuluh orang saja tempat ini pasti akan terlihat penuh. malam itu selain kami berdua ada dua orang yang sepertinya suami istri, beberapa orang menunggu diluar, mereka pesan untuk dibungkus. kami pesan sate kambing, pelayan bilang malam ini hanya ayam dan payau. teman saya pesan ayam karena ia ragu apakah payau itu matinya disembelih atau ditembak. aku sempat berpikir sebentar. aku tidak ingin makan ayam kecuali ayam kampung, tetapi daging payau terlalu liat. akhirnya aku pesan ayam juga. dua orang di depanku yang kukira suami istri telah pergi, kemudian masuk lagi tiga orang, salah satu diantara masih bocah. sambil menunggu pesanan temanku terus menyindirku dengan menyebutku tukangsate yang hanya punya blog. aku sih cengar-cengir saja. untungnya tak lama kemudian pesanan kami datang. sate disiram bumbu kacang, diatasnya ada potongan bawah merah dan lombok. kugenggam semua tusuk sate dipiring itu, kemudian kuputar-putar dibumbu kacang yang telah bercampur dengan irisan bawang merah dan lombok, kulepaskan lagi genggamanku dan kuambil satu tusuk, kugigit, kucoba rasakan daging ayamnya, bumbunya, irisan bawangnya, lomboknya nanti dulu. yang istimewa bumbunya, rasanya dendang banget. kalau resep bumbu sate yang berwarna kecoklatan itu bisa kudapatkan pasti akan membuat sate di warungku (masih direncanakan) memiliki rasa yang tidak hanya nendang, tetapi juga nampar, nginjek, njambak, sekaligus nempeleng. kukatakan kepada kawanku, sate ini kurang lengkap karena ga ada timunnya. kawanku setuju. dalam perjalanan pulang, kawanku bertanya, satu sampai lima berapa nilai sate tadi. aku bilang cukup enak, sayang tidak ada timunnya.
