Bisik-Bisik Tetangga
Seorang teman menghampiri saya, menanyakan beberapa hal untuk klarifikasi. Dalam kasus yang sedang ia coba klarifikasi saya sangat terlibat. Kemudian, ia mulai menyampaikan keberatannya dengan sikap teman yang lain. Saya bilang, oke kita temui teman yang itu, kita bicarakan bertiga. Dia bilang, aku lagi malas. Tak lama kemudian, teman yang kami maksud datang. Langsung aja ku bilang, ini dia orangnya datang, tak tahunya teman yang tadi komplain sudah pergi. Kepalang tanggung, kubilang saja ke teman yang baru datang itu, tadi **** komplain, katanya begini dan begitu.
Saya nggak tahu apakah yang barusan saya lakukan akan menambah runyam, atau bisa memperbaiki keadaan. Niat saya hanya membiasakan terbuka. Komplain seharusnya kita sampaikan kepada yang bersangkutan, bukan kepada orang lain. Jika itu yang tetap kita lakukan maka yang terjadi selanjutnya adalah perguncingan, bisik-bisik tetangga. Dalam agama saya itu namanya ghibah, kalau tidak salah perbuatan itu masuk kategori dosa dan mengotori hati.
Ini bukan yang pertama. Di awal-awal saya berada dalam komunitas ini, saya sudah disuguhi hal ini, secara perlahan saya mulai tertular, dan karena itu akhirnya saya sampaikan ke semua orang bahwa yang seperti ini tidak bisa dibiarkan. Barangkali cara saya menyampaikan kurang bisa dipahami, hingga kini bisik-bisik itu tetap eksis dan menjadi bagian penting dari office politic. Dan saya sebisa mungkin untuk tidak tertular, dan jujur saja itu sangat sulit. Kepada kawan-kawan saya mohon maaf karena akhirnya saya pun punya prasangka terhadap kalian, sebisa mungkin saya akan simpan itu untuk diri saya sendiri, dengan berjalannya waktu saya berharap prasangka itu hilang dari dalam diri saya.