Aduh…PLTN lagi

“…uranium memang SDA yang Kaltim miliki dan bisa diperdayakan dengan pembangunan PLTN itu” begitu kata Kepala Bappeda Kaltim, menanggapi demo penolakan PLTN oleh Forum Satu Bumi (tribun kaltim, 3 Januari 2008)

Kaltim juga ladang minyak, tapi kaltim sering kehabisan bensin
Kaltim sumbernya batu bara dan gas bumi, tapi PLTU diTanjung Batu masih sering kekurangan pasokan.

Jujur saja, kalaupun nanti PLTN dibangun, pasokan listrik ke rumah-rumah kita akan terus berkurang. Karena gaya hidup kita semakin boros energi dan boleh dibilang gaya hidup kita gaya hidup yang lupa tradisi. Kita lupa dimana kita hidup. Gaya hidup kita semakin lama semakin menunjukkan bahwa kita tidak lagi memiliki identitas sebagai bangsa. Kita yang dilahirkan di negara tropis dengan suhu hangat sepanjang tahun (diatas 20 C), pelan-pelan mulai membiasakan diri dengan suhu belasan derajat celsius. Dua bulan yang lalu kita masih sangat nyaman di ruangan dengan suhu 25 C, kemudian kita mulai membiasakan suhu ruangan 24 C, besoknya 22 C. Dan sekarang kita kalau masuk ruangan suhunya harus delapan belas derajat. Teman saya bilang, biar kayak di eropa. Pada saat itu sebenarnya saya ingin meludahi wajahnya.

Benarkah bahwa tujuan hidup kita ini hanya mengejar kenikmatan demi kenikmatan. Dulu ketika kita hanya memiliki uang pas-pasan, kita lebih sering makan gado-gado dan nasi pecel. Sekarang ketika kita punya uang selera kita jadi bergeser. Bergeser kualitasnya juga bergeser kuantitasnya. Jika dulu kita hanya mengenal sarapan, makan siang dan makan malam. Kini, selain tiga itu kita juga punya tradisi ngemil di sore hari dan tengah malam. Kini, kita juga lebih suka soft drink daripada airputih. Dulu, kita masih bisa memakai celana nomor 28. Kini, nomor 33 pun belum tentu bisa memuat perut kita yang begitu tambun. Dulu, kita tidak pernah tergantung dengan kipas angin dan AC. Kini kedua hal itu sepertinya menjadi hal yang wajib yang harus ada di sekeliling kita. Dulu kita terbiasa dengan jalan kaki. Kini, kita jarang sekali melakukannya. Bahkan untuk jarak beberapa ratus meterpun kita lebih suka memakai kendaraan.

Bagaimana mungkin kebutuhan listrik/energi kita akan cukup jika gaya hidup kita demikian?

Apakah kita yakin bahwa kebutuhan listrik/energi kita akan terpuaskan dengan adanya PLTN?

Cukup beranikah kita mengambil resiko jika reaktornya bocor?
Jangan anda bilang bahwa telah ada teknologi yang mampu mengatasinya. Semua teknologi memiliki titik lemah, jika saat ini teknologi itu nampak sempurna, itu artinya titik lemahnya belum ditemukan. Jika kita memutuskan memakai teknologi itu, kemudian titik lemah itu ditemukan maka yang terjadi adalah tragedi umat manusia.
Tahukah anda tragedi itu apa?

Tahukah anda tragedi itu apa?

One Response to “Aduh…PLTN lagi”

  1. Jupriansyah Says:

    sementara nggak banyak komentar dulu neh, salam buat kalian “Alumni Fahutan Unmul”, halaman yang bagus…untuk diskusi mengenai Kaltim seperti saat masih di Senat dulu…..

    saya juga sekarang bekerja untuk lingkungan dengan memperkenalkan Teknologi Pertanian yang Berkelanjutan (LEISA)….

    Info kalian yang berhubungan dengan Teknologi yang mendukung pada pelestarian lingkungan pastinya akan sangat bermanfaat buat masyarakat….

    Salam LESTARI…..

    Jufe

Leave a Reply