Lebih Mencintai Bumi Sejak Hari Ini

Kalau seekor kucing menggosokkan cakarnya dibelakang telingga, maka itu berarti akan hujan. Kucing itu sendiri tidak bermaksud apa-apa dengan geraknya itu. Ia menggosokkan cakar di kupingnya karena listrik di atmosfer telah berubah atau kelembapan telah berkurang atau hanya karena merasa gatal. Tetapi memang benar, bahwa kucing luar biasa peka terhadap perubahan dalam medan magnet dari atmosfer dan menjadi gelisah kalau angin ribut disertai guntur atau salju di udara.
Alam semesta terus mengalami perubahan dan ia memberi tanda kepada kita untuk setiap fase perubahan. Masalahnya hanyalah kita sering tidak tahu dan tidak mau tahu terhadap perubahan itu. Kita larut asyik dengan kenyamanan yang terus kita kejar. Kita lupa bahwa kenyamanan itu harus dibayar mahal oleh orang lain, terutama generasi mendatang dan mungkin juga oleh orang-orang yang ada di sekitar kita.
Alam semesta tak pernah berhenti memberi tanda, karena ia ingin manusia untuk terus belajar. Suhu permukaan bumi yang terus memanas karena kita semakin banyak menghabiskan energi dari bahan bakar fosil, seharusnya membuat kita mulai membiasakan diri untuk menahan diri dan mengurangi membuang gas rumah kaca ke atmosfer. Kita semua sudah seharusnya bersatu padu menahan suhu permukaan bumi yang semakin memanas ini.
Pengukuran suhu yang diambil dengan berbagai instrumen di seluruh dunia, baik daratan maupun lautan menunjukkan bahwa selama 100 tahun terakhir, permukaan bumi dan bagian terbawah atmosfer memanas rata-rata 0,6 C. Selama periode tersebut emisi gas rumah kaca dari manusia meningkat, sebagai hasil dari pembakaran bahan bakar fosil untuk energi dan transportasi, dan perubahan tata guna lahan.
Berdasarkan model komputer diperkirakan dari tahun 1990 hingga 2100 suhu dipermukaan bumi dimanapun akan menghangat antara 1,4 C hingga 5,8 C. Jika model tersebut benar, dalam beberapa generasi mendatang bumi akan lebih hangat dari kapanpun selama 50 juta tahun yang lalu. Hal itu akan menyebabkan aktifitas pertanian ternganggu, sumberdaya air dan kesehatan akan menjadi titik rawan bencana kemanusian. Dan selanjutnya kemungkinan besar beberapa spesies akan punah, termasuk spesies manusia.
Ketika beberapa spesies punah, maka kita juga akan kehilangan beberapa tanda dari perubahan alam semesta. Kita tidak akan melihat laba-laba memberi tanda dengan menenun jaringnya. Kita tidak akan mendengar suara katak untuk menandakan hujan. Yang bisa kita lihat mungkin hanya sesama kita yang saling bertanya dan mencari tanda akan sebuah perubahan, termasuk perubahan iklim yang saat ini sedang terjadi.
Perubahan iklim memang harus terjadi karena itu mekanisme alam semesta untuk tetap dalam keseimbangan. Namun yang terjadi akhir-akhir ini diluar kebiasaan. Dan itu seharusnya membuat kita lebih berhati-hati untuk melangkah, lebih mempertimbangkan dampak-dampak masa depan atas semua tindakan yang kita lakukan saat ini. Namun demikian kita tidak perlu panik.
Ada banyak hal dibalik perubahan itu yang sampai saat ini menjadi misteri, tetapi hal itu tidak lantas bagi kita untuk membiarkan waktu yang menyelesaikan. Jika kita benar-benar menyerahkan kepada waktu. Maka kita pasti akan terkejut, karena ternyata kita tidak lagi punya waktu untuk memperbaikinya.
Di balik semua misteri yang terjadi kita juga punya banyak informasi. Kita punya banyak tanda. Para ilmuwan telah banyak mengumpulkan tanda-tanda dengan apa yang terjadi di planet kita. Suhu yang semakin memanas ini terjadi karena di atmosfer (terutama troposfer) semakin banyak berisi gas rumah kaca, seperti Karbon dioksida (CO2), Uap air (H2O), Metana (CH4) dan beberapa gas yang lain.
Semakin banyaknya jumlah gas-gas tersebut di atmosfer disebabkan, sebagian besar oleh aktifitas kita. Satu-satunya planet yang bisa kita huni terus menghangat. Dalam satu abad terakhir tercatat kenaikan suhu antara 0,4 hingga 0,8 C. Dan itu cukup untuk melelehkan sebagian lapisan es di kutup dan di puncak-puncak pegunungan yang tinggi.
Menghangatnya bumi juga akan mempengaruhi penyebaran beberapa organisme pembawa penyakit, seperti malaria. Dan kemungkinan besar bukan membawa pengaruh yang baik, melainkan sebaliknya. Dengan menghangatnya suhu permukaan bumi nyamuk malaria akan menyebar ke daerah yang lebih luas. Dan tentu saja peluang kita untuk terkena demam yang mematikan dan rasa ngilu yang menyakitkan di setiap sendi akan lebih besar. Mungkin hanya menunggu waktu saja bagi kita untuk merasakannya kengerian itu. Sebagian dari kita mungkin tidak percaya bahwa saat itu akan tiba, itu sepenuhnya hak kita untuk percaya atau tidak, tetapi sebaiknya kita percaya. Dan kini masa depan ada di tangan kita.
Perkiraan para ilmuwan, jika kita tidak melakukan apa-apa dan membiarkan waktu menjawabnya. Maka, pada tahun 2100 suhu yang akan kita rasakan akan jauh lebih panas, yang itu tidak pernah terjadi sejak 40 juta tahun yang lalu. Pada saat itu apakah anak cucu kita akan mampu menghadapinya.
Alam semesta telah memberi tanda. Kita telah membacanya dan memakainya untuk meramal masa depan. Akankah kita membiarkan saja suhu permukaan bumi memanas hingga 2100, tanpa kita melakukan apapun. Apakah kita masih tidak percaya dan menunggu ramalan itu benar-benar terjadi. Apakah kita benar-benar menginginkan ramalan itu menjadi kenyataan, ataukah kita ingin menghindarinya. Semua itu tergantung kepada kita. Jika kita tidak ingin mimpi buruk itu menjadi kenyataan, maka marilah kita tidak menyerahkan semuanya kepada waktu. Jika kita tetap membiarkan waktu menyelesaikannya, maka kita akan tidak punya waktu lagi untuk menyelamatkan diri. Karena hingga saat ini para astronom belum menemukan benda angkasa yang layak huni untuk kehidupan seperti yang ada di bumi. Merkurius terlalu panas, Venus diselimuti awan yang beracun, Mars bermasalah pada ketersedian air dan udara. Hanya Bulan yang punya peluang untuk itu, dengan rekayasa yang sangat keras, bisa saja pada masa depan Bulan menjadi layak huni, tetapi apakah cukup untuk menampung seluruh warga Bumi. Oleh sebab itu, marilah kita lebih mencintai bumi sejak hari ini, karena hanya di Bumi kita bisa hidup.

3 Responses to “Lebih Mencintai Bumi Sejak Hari Ini”

  1. Ary Boetjek Says:

    Sepakat….
    Setuju…
    Ok, Tak ada waktu lagi untuk memperdebatkannya, mari selamatkan bumi dari sekarang…
    Salam….

    Ary Boetjek

  2. muh ikhlas Says:

    sekarang adalah waktu yang sangat tepat untuk menyelamatkan bumi, dan mulailah dari diri sendiri, selanjutnya orang tua, pemerintahnya kapan…..?

  3. dead Says:

    @muh ikhlas
    sekarang adalah waktu yang sangat tepat untuk menyelamatkan bumi, dan mulailah dari diri sendiri, selanjutnya orang tua, pemerintahnya kapan…..?

    ya sudah kalau gitu gak usah. selesai.

Leave a Reply