Archive for November, 2007

tikungan

Friday, November 2nd, 2007

Tepat di depan kantorku adalah jalan yang menikung sangat dalam, hampir membentuk sudut 90 derajat. Jika berjalan menyeberang dan memotong tikungan tersebut secara simetris, maka akan sampai di tempat kosku. Jika tidak sedang ke lapangan, hampir setiap hari aku selalu dengar apa yang terjadi di tikungan itu. Tentu saja yang sering terdengar adalah mobil dan motor yang meraung-meraung.
Di depan kosku ada pangkalan ojek dan penjual gorengan. biasanya pada sore hari banyak orang berkumpul di sekitar tempat itu, di
sekitar pangkalan ojek dan di sekitar penjual gorengan. Keramaian itu biasanya bertahan hingga jam 10 malam.
Orang-orang itu sering menjadi saksi ganas tikungan yang hampir 90 derajat. Mereka adalah orang-orang yang pertama kali menolong para korban atau mencacinya. Mereka akan berteriak dan bersorak jika korban jatuh karena ugal-ugalan. Seperti yang terjadi kemarin malam. Pada saat itu aku sedang berada di kamar mandi. Aku mendengar ada suara mesin yang meraung-meraung, tak lama kemudian terdengar suara benturan yang keras dan selanjutnya
“mampus kau!!!
kata-kata itu aku dengan cukup nyaring dan tegas. Aku tidak tahu apakah orang-orang itu akan menolongnnya atau membiarkan saja. Yang kutahu pasti, ada yang jatuh di sekitar tikungan itu.

bukan yang terdalam

Friday, November 2nd, 2007

Yang jauh diperlukan bukanlah kepandaian kita berbicara. Kemampuan dan kemauan kita untuk mendengar justru lebih baik bagi kita untuk benar-benar melakukan komunikasi. Ketika kita berbicara dan menyampaikan pemikiran kita, mungkin hanya perlu beberapa menit. Tetapi ketika kita mencoba mendengar pendapat orang lain kita memerlukan waktu yang jauh lebih lama.
Hal itu bukan karena pendapat tersebut memang disampaikan secara panjang lebar, tetapi apakah memang yang disampaikan itu sesuatu yang benar-benar ingin ia ucapkan. Pengalaman mengajarkan apa yang dikatakan seringkali bukanlah sesuatu yang benar-benar ingin ia ucapkan. Saya menyebutnya ‘bukan yang terdalam’
Bekerja dengan beberapa orang (pihak) bisa dibilang susah-susah gampang. Gampangnya karena memang biasanya pekerjaan kita hanyalah bertemu dengan orang-orang tersebut. Susahnya kita harus kenal dengan mereka, mengetahui persepsi mereka atas suatu hal. Bertemu dengan orang-orang dan kemudian menanyakan beberapa pertanyaan, kemudian jawaban-jawaban yang muncul, akhirnya lahirlah kesimpulan-kesimpulan. Kesimpulan-kesimpulan itu selanjutnya dipakai sebagai dasar untuk mengambil keputusan. Celakanya kesimpulan itu tidak diambil tidak secara dalam. Kesimpulan diambil berdasarkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan secara “hit and run”.
Yang kemudian selalu menjadi pertanyaan adalah, apakah yang kita peroleh adalah benar-benar yang terdalam, apakah itu suara yang terbanyak, atau yang kita hanyalah suara yang paling nyaring.