generasi yang menyelipkan saputangan
Seorang teman ditertawakan oleh teman yang lain, gara-gara ia selalu menyelipkan sapu tangan di saku belakang celananya. Ia juga sering ditertawakan karena masih sering memakai kaos dalam. Ketika ditanya, ia hanya mengatakan bahwa ia merasa nyaman dengan semua itu. Tetapi, sejujurnya itu adalah warisan dari ibunya. Perasaan rindu dan cintanya ia kenang dengan membiasakan sesuatu yang disukai oleh ibunya.
Belakangan ia tahu bahwa apa yang disukai oleh ibuanya dan yang membuatnya nyaman itu, juga merupakan bagian dari kearifan masa lalu, mewakili sebuah peradaban, sebuah generasi yang kini semakin sedikit penganutnya. Namun di dasar hatinya ia yakin bahwa masa lalu akan berulang. Apa yang pernah terjadi akan kembali terjadi pada waktu yang akan datang, meskipun hal itu tidak akan pernah persis sama. Ia juga percaya ada nilai dari apa yang pernah berlaku. Tindakan tidak lahir begitu saja. Selalu ada alasan untuk perbuatan yang kemudian menjadi kebiasaan. Ia mencarinya.
Makin hari pengetahuannya akan hal itu semakin dalam, dan ia bangga menyebut dirinya generasi yang menyelipkan saputangan. Ia juga mengatakan generasi seperti dirinyalah yang harus dilestarikan.
Generasi yang menyelipkan sapu tangan dan masih berkaos dalam, ternyata merupakan generasi yang baginya konservasi bukan hanya sekedar diucapkan tetapi juga amalan harian. konservasi bukanlah slogan dan nyanyian indah. konservasi adalah setiap jengkal langkah kita.
Pernah suatu ketika saya ngobrol dengan teman itu, dan saya dibuatnya sungguh malu. beberapa pertanyaan tidak bisa saya jelaskan. beberapa pertanyaannya yang lain semakin menunjukkan bahwa sebagian besar dari adalah orang-orang yang setengah munafik, hampir mendekati munafik sejati. pertanyaan-pertanyaan yang diajukan hanyalah sebuah pertanyaan sederhana. Ia mulai dengan pertanyaan tentang sapu tangan dan tisu.
Mengapa di kantor saya begitu banyak pemakaian tisu, padahal tisu kan dibuat dari kayu, yang diambil dari hutan. di mobil juga disediakan banyak sekali tisu, di kamar mandi banyak sekali tisu, di setiap ruangan ada kotak tisu. Mengapa tidak pake sapu tangan saja?
Mengapa kalo pergi ke kampung-kampung selalu membawa soft drink, makanan kaleng dan makanan-makanan yang lain yang dikemas oleh bahan yang terbuat dari logam atau plastik, yang semuanya sulit untuk terurai secara alami.
Kemudian teman saya itu bilang
“sampahnya tidak pernah kamu bawa pulang kan, kamu pikir itu tidak akan menjadi beban bagi alam”
‘mampus deh gue’
ya mau gimana lagi, sepertinya memang sebagian besar dari kita hampir saja menjadi munafik. Kita meminta semua pihak untuk menyelamatkan hutan, dan memulainya dari membiasakan hal-hal yang kecil seperti memakai sapu tangan daripada tisu. tetapi dalam kehidupan sehari-hari kita jauh sekali dari hal itu. Kita juga tahu setiap bensin yang kita bakar akan mengeluarkan karbon ke atmosfer, tetapi kita juga tidak berusaha untuk membiasakan di berjalan kaki dan bersepeda. Barangkali sebagian besar dari kita ini hanya pandai bicara. Kita mengharapkan orang lain melakukannya, tetapi kita sendiri enggan untuk sekedar mencobanya. Kita ini sering melakukan penyadaran, tetapi lupa bahwa ternyata kita juga belum sadar.
Sebelum berpisah teman itu bilang “tidak perlu mengkampanyekan konservasi jika belum siap menjadi generasi yang menyelipkan saputangan dan bermusuhan dengan tisu”