bukan yang terdalam
Yang jauh diperlukan bukanlah kepandaian kita berbicara. Kemampuan dan kemauan kita untuk mendengar justru lebih baik bagi kita untuk benar-benar melakukan komunikasi. Ketika kita berbicara dan menyampaikan pemikiran kita, mungkin hanya perlu beberapa menit. Tetapi ketika kita mencoba mendengar pendapat orang lain kita memerlukan waktu yang jauh lebih lama.
Hal itu bukan karena pendapat tersebut memang disampaikan secara panjang lebar, tetapi apakah memang yang disampaikan itu sesuatu yang benar-benar ingin ia ucapkan. Pengalaman mengajarkan apa yang dikatakan seringkali bukanlah sesuatu yang benar-benar ingin ia ucapkan. Saya menyebutnya ‘bukan yang terdalam’
Bekerja dengan beberapa orang (pihak) bisa dibilang susah-susah gampang. Gampangnya karena memang biasanya pekerjaan kita hanyalah bertemu dengan orang-orang tersebut. Susahnya kita harus kenal dengan mereka, mengetahui persepsi mereka atas suatu hal. Bertemu dengan orang-orang dan kemudian menanyakan beberapa pertanyaan, kemudian jawaban-jawaban yang muncul, akhirnya lahirlah kesimpulan-kesimpulan. Kesimpulan-kesimpulan itu selanjutnya dipakai sebagai dasar untuk mengambil keputusan. Celakanya kesimpulan itu tidak diambil tidak secara dalam. Kesimpulan diambil berdasarkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan secara “hit and run”.
Yang kemudian selalu menjadi pertanyaan adalah, apakah yang kita peroleh adalah benar-benar yang terdalam, apakah itu suara yang terbanyak, atau yang kita hanyalah suara yang paling nyaring.