Menjadi orang yang tahu (ilmuwan, dosen, guru, peneliti dan sejenisnya) mau tidak mau ia harus mengambil tanggung jawab yang lebih besar daripada orang yang tidak tahu. Peran orang-orang yang tahu itu seringkali dijadikan legitimasi untuk keputusan besar. Di balik hasil penelitian ilmiah orang-orang yang tahu itu, biasanya masyarakat pinggiran semakin tidak berkutik. Pada titik inilah tanggungjawab orang-orang yang tahu itu diletakkan.
Tanggungjawab itu tidak hadir begitu saja, ada kesadaran yang harus tumbuh. Terkadang kesadaran itu tidak tumbuh begitu saja, melainkan perlu intervensi, perlu katalis. Peran katalisator biasanya diambil oleh ornop. Mengapa perlu ornop karena seringkali metode ilmiah dan hasil penelitian menjadi dewa para orang yang tahu. Ketika itu terjadi maka fenomena yang tersembunyi dan kenyataan-kenyataan yang tak terukur benar-benar tidak punya nilai. Padahal, justru dengan sesuatu yang tak terukurlah alam semesta ini diciptakan.
Ada banyak kasus dimana masyarakat pinggiran terpinggirkan oleh hasil penelitian. Salah satunya adalah para petani di Klaten. Suplai air untuk irigasi mereka berkurang setelah Aqua mengambil air dari salah satu sumber air yang ada di sekitar tempat mereka. Aqua tidak merasa mengambil jatah air untuk irigasi karena telah ada penelitian yang dilakukan untuk itu.
Bagaimana dengan lumpur lapindo?
Bagaimana dengan degradasi hutan?
Bagaimana dengan sawit?