Alam semesta dalam setiap proses perubahannya selalu menghasilkan ketidakberaturan. Dalam hal ini bisa kita sebut entropi, atau untuk lebih mudahnya kita sebut saja limbah. Manusia
menghasilkan limbah, itu pasti. Mesin-mesin produksi menghasilkan limbah, itu juga pasti. Yang bisa dikurangi hanya volumenya saja, tetapi dengan populasi yang terus meningkat limbah akan terus meningkat.
Sebagai makhluk homoeconomicus, manusia akan terus haus dan lapar, dan tidak akan pernah kenyang. Memang ada manusia yang tidak seperti itu, tetapi jumlah sedikit, sangat sedikit. Bahkan dengan bergulirnya waktu orang-orang seperti itu semakin sedikit.
Alam semesta dirancang tidak untuk bertahan selamanya. Daya tahannya ada batasnya. Kemampuannya untuk menetralisir racun terbatas. Pada saat-saat tertentu ia bisa terluka dan sakit, dan itu artinya akan mempercepat kehancurannya.
Sebagai sesuatu yang dianggap milik bersama, sumberdaya alam menjadi sesuatu yang tak terpelihara. Semua orang mengambil manfaat darinya, tetapi tak seorangpun yang bersedia untuk sedikit berkorban untuk memeliharanya. Dengan paksaan hal itu bisa dihilangkan. Ekonomi lingkungan dipakai sebagai instrumen memaksa.
Misalnya, ada sebuah danau yang dimanfaatkan oleh penduduk untuk air minum, irigasi, PLTA, untuk terus menjaga agar fungsi danau tetap berjalan maka harus ada pemeliharaan. Manfaat danau untuk penduduk adalah fungsi dari permintaan, dan pemeliharaan adalah fungsi dari penawaran. Yang selama ini terjadi adalah tidak pernah ada penawaran, tidak tercipta pasar. Akhirnya pencemaran terus terjadi.
Ekonomi lingkungan dirancang untuk mengatasi itu. Ia dipakai untuk menemukan nilai penawaran yang realistis. Sampai disini ekonomi lingkungan masih menjadi jalan terbaik.
Namun sayangnya, ia tidak berhenti sampai disitu saja. Pasar tidak akan pernah terjadi tanpa status kepemilikan yang jelas. Permintaan dan penawaran tidak akan terjadi tanpa ada hak kepemilikan, karena pada proses itu ada perpindahan hak milik.