Buah Tukul
Friday, March 23rd, 2007Akhirnya kami menyebutnya buah tukul, setelah tak satupun dari kami benar-benar tahu buah apa sebenarnya itu. Bentuknya bulat seperti kelengkeng, ukurannya juga kurang lebih sama. Tetapi buahnya tidak berwarna putih, melainkan merah. Dalam satu butir ada tiga sampai empat biji didalamnya. Biji buah tersebut kira-kira sebesar tahi hidung terbesar yang pernah keluar dari hidung kita. Jadi bisa dibayangkan, berapa persen daging buahnya yang bisa dimakan.
Buah tersebut dibawa oleh teman kami yang baru pulang dari Kutai Barat. Rasanya kecut. Teman saya bilang, sekarang tidak ada buah di hutan yang enak dimakan. Yang manis sudah habis.
Kalau dulu, pulang dari hutan bisa bahwa buah yang enak-enak, sekarang susah. Dulu setiap kali pergi ke hutan pulangnya bahwa anggrek yang di ambil sendiri dipohon. Sekarang sulit cari anggrek di hutan. Sekarang, beberapa teman setiap kali pergi ke hutan bahwa nephentes. Nanti pasti susah cari nephentes. Apalagi sekarang harga nephentes mahal.
Apakah karena kita seorang konservasionis harus memindahkan tanaman yang indah ke sekeliling rumah kita. Apakah karena saking cintanya dengan hutan, kita harus selalu membawa kenang-kenangan setiap kali kembali dari hutan. Haruskah rasa cinta berwujud. Apakah cinta itu harus tampak oleh orang lain. Tidak cukupkah rasa cinta itu hanya kita berdua yang tahu. Apakah semua orang harus tahu kalau kita sedang kasmaran.
Tulisan ini memang tidak nyambung, tetapi saya berusaha untuk nyambung-nyambungkan. Maklum saja, semuanya ini gara-gara saya makan buah tukul, yang ternyata sangat kecut.
