Archive for March, 2007

Pestanya Para Dewa

Tuesday, March 27th, 2007

Garis-garis merah terbentuk dilangit
Bercak-bercak awan putih bagai bayangan dewa-dewa yang sedang menari
Angin sore membasuh wajah yang penuh rindu
Ingin aku berteriak kepada dewa-dewa diatas sana
Tetapi aku malu orang-orang akan menganggapku gila, berbicara kepada langit

Dewa-dewa masih menari
Garis-garis dilangit tak seterang sebelumnya
Sebagian mulai menghilang
Lampu-lampu di pesta para dewa mulai redup
Bercak-bercak putih itu semakin tak jelas

Suara-suara dari masjid mulai terdengar
Saling bersahutan dan berkejaran
Semakin lama semakin nyaring, seolah takut pujiannya tak didengar oleh Tuhan

Apakah Tuhan telah menjadi tuli?

Tentang Kita, sebagai Manusia

Saturday, March 24th, 2007

Konon modernitas menjebak manusia pada kenisbian yang memosisikan postulat kebenaran sebagai relatif. Didalamnya subyektifitas menentukan signifikansi. Maka, agama sebagai patokan moral kehilangan legitimasi, posisinya digantikan oleh ilmu pengetahuan yang mendasarkan kebenaran pada rasionalitas (Boni Hargens, dalam opini di kompas 20 Maret 2007)
Apakah kita bagian dari orang-orang yang terjebak?

Kenyataan selalu menawarkan wajah beragam. Benar-salah kerap tersembunyi di balik lapisan-lapisan tafsir yang bisa dikupas dari berbagai sudut pandang. Di tengah relativitas itu, perilaku seseorang akhirnya hanya dapat dihakimi oleh hati nuraninya sendiri (Ilham Khoiri, kompas 18 maret 2007)
Apakah kita memakai hati nurani sebagai hakim?

Semuanya Saya Paksa untuk Nyambung

Saturday, March 24th, 2007

Beberapa hari yang lalu, suatu pagi, saya melihat ibu tetangga sebelah mencuci motor di halaman rumah kayunya. Saya agak heran dengan hal itu, karena beberapa waktu sebelumnya saya selalu melihat teman lelaki saya selalu mencucikan motor pacarnya. Sementara sang pacar asyik baca koran di ruang depan. Teman saya seorang aktivis. Suami ibu sebelah adalah seorang karyawan hotel. (more…)