Angkuh
Apakah kodrat kita sebagai manusia untuk menjadi angkuh? Rasanya yang namanya kerendahan hati itu jarang sekali kita temui, yang sering kita temui adalah rasa minder, bukan rendah hati. Barangkali memang sungguh sulit menjadi orang yang rendah hati, dan rendah hati bukanlah kodrat kita sebagai manusia. Kita sebagai manusia adalah ciptaan yang paling sempurna. Untuk itu kita layak menjadi angkuh.
Keangkuhan itu ada yang nampak jelas, ada juga yang samar-samar, tetapi kita semua pasti bisa mengetahui. Seringkali kita tidak peduli dengan hal itu, atau berlagak tidak peduli. Kita semua menunggu kesempatan untuk menjadi angkuh. Kita semua sedang menunggu prestasi kita untuk diakui oleh banyak orang. Setelah pengakuan itu kita layak menjadi angkuh.
Dalam satu hari, berapa kali kita mengingat-ingat jasa kita kepada orang lain, dan berapa kali kita mengingat jasa orang lain kepada kita. Keangkuhan itu ibarat obat. Bisa menjadi racun jika kelebihan dosis. Layaknya sebuah obat, ia hanya diperlukan ketika sakit.
Ketika kita sedang terpuruk dan tak lagi punya semangat, sedikit keangkuhan diperlukan untuk mengangkat kepala kita agar dapat berjalan layaknya manusia. Celakanya tidak banyak dari kita yang tahu dosisnya. Bahkan mungkin tidak ada dari kita yang tahu berapa takaran keangkuhan yang kita perlukan untuk membangkitkan semangat. Berapa dosis yang kita perlukan agar kita tidak menjadi pengemis.
Jika kita tidak tahu dosisnya bagaimana kita bisa memakainya sebagai obat