Omong Kosong Konservasi
Samarinda, 3 Maret 2007. Pagi ini saya membaca Tribun Kaltim. Agak terkejut ketika saya baca halaman pertama ’Forum Konservasi Hutan Terbentuk’. Seharusnya saya tidak terkejut karena memang forum-forum semacam itu sering terbentuk. Produk apa yang nantinya bisa dilahirkan dari kehadiran forum itu adalah hal lain. Yang penting forum itu ada dulu, dan kemudian dana bisa mengalir. Apakah dana itu untuk konservasi, itu juga hal lain. Yang penting uang sudah kita dapatkan. Apakah keberadaan forum itu akhirnya benar-benar ngurusi konservasi, kita lihat saja beberapa tahun kemudian. Mungkin tidak perlu waktu selama itu untuk melihat kematian forum tersebut.
Forum itu dibentuk dalam sebuah lokakarya yang di selenggarakan oleh Pemprov Kaltim, Bapedalda Kaltim, Dinas Kehutanan Kaltim dan The Nature Conservancy (TNC). Dari komposisi penyelenggara, lokakarya tersebut pastilah didanai oleh TNC.
Kebetulan saya hadir dalam lokakarya tersebut. Saya memaksakan diri hadir, dan saya menyesal karena memaksakan diri. Lokakarya itu tak ubahnya parade omong kosong tentang konservasi. Semua orang berbicara tentang konservasi dan memamerkan apa yang telah mereka lakukan. Tetapi hampir semuanya tidak pernah tahu apa tujuan dari semua omong kosong konservasi itu. Jika demikian halnya, tindakan konservasi yang kita lakukan selama ini untuk apa?
â€Jika kita tidak pernah tahu apa yang akan kita tuju, maka kita juga tidak akan pernah kemana-mana†begitu kata Bang Tunggul. Saya sepakat dengan itu. Dan celakanya sampai saat ini kita tidak pernah tahu tujuan akhir untuk konservasi ini kemana. Mungkin kita tahu, tetapi pura-pura tidak tahu. Ini munafik namanya. Dan ini adalah penyakit populer di kalangan manusia yang mengaku modern dan berpendidikan.
Mungkin juga kita memang benar-benar tidak tahu, tetapi terus saja menabur kata-kata konservasi dimana saja, kepada siapa saja dan kapan saja. Jika bukan omong kosong, apa sebutan yang tepat?