Ultranasionalisme Tukang Sate
Sebagai seorang tukang sate, saya percaya bahwa caci maki, hujatan atau yang lainnya tidak akan mengubah apapun, karena saya mempercayai bahwa angin yang paling heninglah yang membawa badai. Pemikiran yang datang dengan langkah-langkah merpati yang menuntun dunia. Tetapi akhir-akhir ini saya merasa ada dorongan yang kuat dari dalam untuk menyampaikan sesuatu yang sedikit kasar, mungkin tidak hanya kasar tetapi juga pedas, dan bikin panas telinga beberapa orang.
Sebelumnya agak sedikit ragu apakah yang akan saya sampaikan ini lebih banyak membawa kebaikan atau sebaliknya. Tetapi sekali lagi saya merasa didorong, bahkan saya merasakan ada yang menendang dengan keras. Saya terkejut dan seketika berteriak “go to hell international institutions, mereka semua adalah bangsat dan anjingâ€
Kemudian saya merebahkan diri, memandang langit, melentangkan kedua tangan. Dalam hati saya mengatakan ‘akan kuusir mereka semua’. Saya merasa lega dan seolah semua tali yang mengikat kaki dan tangan saya terlepas. Saya sadar bahwa prasangka itu seperti penjara, tetapi saya juga akan terus didorong dan ditendang jika saya diam saja. Diam bukan emas dan berprasangka juga tidak akan menghasilkan emas.
Prasangka lahir karena banyak hal, yang sifatnya bisa sangat personal. Bagaimanapun proses prasangka itu lahir, saya merasa perlu untuk menyampaikan alasan mengapa saya ingin semua lembaga internasional itu pergi. Pertama, karena mereka tidak membawa dampak yang signifikan bagi omset penjualan sate saya.
Kedua, kehadiran mereka tidak banyak membawa perbaikan. Yang saya baca dari koran bahwa lembaga keuangan internasional yang membantu negara kita ini tidak pernah membawa perubahan apapun, selain utang kita yang semakin mengunung. Itu untuk lembaga keuangan. Bagaimana dengan lembaga yang lain, misalnya lembaga konservasi international (LKI)
Teman saya bilang LKI penuh omong kosong, dan saya sepakat, bahkan sangat sepakat. Bayangin aja berapa tahun mereka ada di negara kita. Berapa banyak dana berputar di kalangan mereka. Tetapi apakah kondisi hutan kita semakin baik. Apakah flora dan fauna kita terlindungi. Jawabnya jelas tidak. Dan hebatnya para LKI itu akan mengatakan bahwa jika tidak ada mereka kerusakan akan bertambah parah. Tetapi begitulah mereka, tidak hanya penuh omong kosong tetapi juga angkuh dan sombong, yang selalu ingin menjadi pahlawan atas nama penyelamatan lingkungan.
Kemarahan saya menjadikan saya tidak sadar akan keberadaan seorang teman yang dari tadi berdiri di belakang saya. Ia mengingatkan saya untuk tidak berprasangka buruk, katanya tidak baik dan hal itu dekat dengan dosa. Masih dengan rasa marah saya katakan kepadanya â€untuk mereka hukumnya wajib kita curigaâ€
Kemudian saya bangkit. Dengan sadar saya tampar teman saya itu â€Buka mata, telinga, otak dan hati kamu. Mereka akan membagi tanah negara kamu kedalam kapling-kapling kawasan konservasi. Mereka akan mengusir saudara-saudara kamu yang tinggal dihutan. Teruslah berprasangka baik. Dan jika tidak punya malu bergabunglah dengan mereka untuk menjadi salah satu mulutnya, yang terus menabur omong kosongâ€
Saya tidak minta maaf untuk kata-kata yang kasar. Saya tidak merasa bersalah dengan semua kata-kata itu. Karena saya hanya tukang sate, pengetahuan saya pasti tidak sehebat mereka, tetapi saya yakin hati saya tidak pernah berbohong kepada saya.
March 8th, 2007 at 1:15 pm
mas…boleh kenalan gak ama tukang sate ini…kayaknya seperti resi atau empu buat menimba ilmu nih….:)