Kita mesti belajar lagi…lagi
Dua hari yang lalu saya menghadiri diskusi banjir di kota Samarinda. Diskusi itu dilakukan untuk mencari masukan untuk persiapan hearing bersama pihak legeslatif dan eksekutif Kota Samarinda. Acara itu dihadiri oleh para aktivis NGO, beberapa ketua RT dari jalan Pemuda, akademisi dan mahasiswa.
Seorang staf Walhi mempresentasikan hasil kajiannya tentang banjir di kota Samarinda. Materi tersebut rencananya akan dipresentasikan dihadapan pengambil kebijakan kota Samarinda. Bayangan saya, presentasi ini akan menarik. Tetapi layaknya sebuah bayangan yang tidak pernah menjadi kenyataan, begitulah akhirnya presentasi itu berjalan.
Saya bilang presentasi itu nggak banget. Untuk lembaga sekelas walhi presentasi itu memalukan. Bagi saya ini menjadi refleksi bahwa selama ini kita hanya pandai berteriak dan memaki. Kita terbiasa mencari pihak-pihak yang dipersalahkan. Kita terbiasa sangat mudah menetapkan kambing hitam yang kemudian diburu rame-rame. Kita lupa mencari solusi yang masuk akal. Kita juga lupa bahwa untuk meyakinkan orang lain kita perlu informasi yang bisa dipertanggungjawabkan.
Kita terbiasa melihat yang tampak didepan mata. Kita lupa mencermati apa yang sebenarnya terjadi. Kepekaan kita hanya lahir dari apa yang kita lihat dan apa yang kita dengar nyaring di telinga kita. Kita enggan mendengar suara hati kita, yang memang tidak pernah bersuara meski ia terus berbicara.
Dengan pengetahuan yang seadanya seringkali kita begitu angkuhnya menyalahkan orang lain. Padahal jika orang-orang yang sering kita persalahkan mempunyai keberanian untuk mempertanyakan hal-hal yang mendasar kita tidak akan pernah bisa menjawabnya.
Saya tidak sedang melemahkan perjuangan teman-teman NGO atau siapapun yang mengaku dirinya konservasionis. Apa yang ingin saya bilang adalah bahwa dasar pemikiran kita seringkali tidak cukup kuat dalam banyak hal, yang semuanya itu adalah pekerjaan kita sehari-hari.